manusia

kemana akan engkau bawa dirimu???

Iklan

Mengenal mudah rukun islam, iman, ihsan secara terpadu

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam semesta. Saya memohon kepada Allah agar dianugerahi keterbukaan yang jelas, serta keyakinan dan kemampuan yang sempurna. Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, Raja Yang Maha Benar dan Maha Pemberi penjelasan. Dan saya bersaksi pula bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang jujur dan terpercaya, dan yang berkata,

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi baik, maka Allah akan menjadikannya orang yang memahami agama.”

Kemudian shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepadanya, keluarga dan para sahabatnya, seluruh Nabi dan Rasul, serta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikut mereka hingga hari kiamat.

Amm ba’d. Ini adalah risalah singkat yang memuat kewajiban-kewajiban keagamaan yang terdiri dari ilmu tentang Islam, Iman dan Ihsan, yang disebutkan dalam hadits Jibril AS, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, dari Umar bin Al-Khatthab RA, yang diketahui oleh seorang mukallaf, dan yang buahnya akan kembali kepada dirinya. Sayyid Al-Imam Syaikhul Islam Abdullah bin Alwi bin Muhammad Alhaddad RA berkata, “Saya ingin menjelaskan dalam suatu risalah yang menyeluruh tentang hadits Jibril saat datang menemui Nabi SAW yang saat itu sedang berada di tengah-tengah para Sahabatnya. Nabi SAW berkata sesudah Jibril keluar, ‘Dia adalah Jibril yang datang kepadamu sekalian untuk mengajarkan kepadamu tentang agamamu.’ “

Makna ucapan Nabi SAW ini merupakan isyarat bagi pemberian ijin untuk mengumpulkan apa yang dapat kita capai dengan ilmu kita yang dangkal dan pemahaman kita yang pendek, yang dapat merupakan penjelasan terhadap kandungan hadits tersebut diatas. Karena itu kami memohon kepada Allah agar Dia melapangkan dada kami, dan memudahkan segala urusan kami. Sesungguhnya Dia Maha Agung, Maha Pengampun, Maha Penyantun, lagi Maha Menerima Syukur.

Kami awali uraian kami dengan menjelaskan sebuah hadits dengan mengatakan,

“Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khatthab RA, beliau berkata, ‘Pada suatu hari, di saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba muncullah seorang laki-laki yangsangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, dan tidak terlihat bekas-bekas bahwa dia datang dari jauh, dan tidak ada seorang pun diantara kami yang mengenalinya, sampai dia duduk di depan Nabi SAW, dan menempelkan kedua lututnya dengan kedua lutut Nabi, seraya meletakkan kedua telapak tangannya di kedua paha beliau. Kemudian dia berkata, ‘Ya Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam?’

Rasulullah SAW menjawab, ‘Islam ialah hendaknya angkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah rasul-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan melaksanakan haji jika engkau mampu.’

LAki-laki itu berkata, ‘Engkau benar’. Maka kami pun merasa heran terhadap laki-laki itu, dia bertanya tapi dia juga membetulkan (jawabannya). Selanjutnya dia berkata, ‘Terang pula kepadaku tentang Iman?’

Rasulullah SAW menjawab, ‘Iman ialah hendaknya engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada taksir baik dan buruknya.’

‘Engkau benar’, kata laki-laki itu. Seterusnya dia berkata, ‘Jelaskan kepadaku tentang Ihsan?’

NAbi SAW menjawab, ‘Ihsan ialah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’

Laki-laki itu berkata, ‘Jelaskan pula kepadaku tentang hari kiamat?.’

Nabi SAW menjawab, ‘Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.’

Laki-laki itu berkata lagi, ‘Katakan kepadaku tentang tanda-tandanya (kiamat)?’

Nabi SAW menjawab, ‘(Tanda-tandanya ialah) jikaseorang budak perempuan telah melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, telanjang, papa, dan penggembala kambing, berlomba-lomba membangun rumah-rumah yang tinggi.’

Kemudian laki-laki itu meninggalkan kami dan hilang begitu saja. Lalu Nabi SAW berkata, ‘Wahai Umar, tahukah engkau siapakah laki-laki yang bertanya tadi?’

‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu,’ jawabku.

Nabi SAW berkata, ‘Dia adalah Jibril yang datang kepada kamu sekalian untuk mengajarkan kepadamu tentang agamamu.’ “ (HR. Muslim)

Hendaknya diketahui bahwa hadits tersebut, selain memuat 3 rukun agama, yaitu rukun Islam, Iman dan Ihsan, juga memuat jenis-jenis ilmu ketiga rukun agama tadi.

1. Ilmu figih, yaitu ilmu tentang hukum-hukum syariat yang diwajibkan oleh Allah untuk dilaksanakan oleh kaum muslim dan muslimat.
2. Ilmu tauhid, yaitu hal-hal yang wajib diyakini oleh seorang mukallaf (orang yang telah dewasa yang wajib menjalankan hukum agama), yang terdiri dari ketuhanan, kenabian, dan hal-hal yang sam’iyyat (masalah-masalah ghaib).
3. Ilmu tasawuf, yaitu ilmu akhlak batin yang merupakan hal-hal yang menyelamatkan, wajib dijadikan hiasan oleh seorang hamba, dan hal-hal yang merusakkan yang mesti ditinggalkan.

Ketiga ilmu ini wajib dituntut dan dimiliki oleh setiap mukallaf, tanpa ada keringanan untuk meninggalkannya. RAsulullah SAW bersabda, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimat.”

Beliau juga bersabda, “Carilah ilmu walaupun ke negeri Cina.”

Dan ini adalah jalan-jalan yang sederhana dalam menuntut ilmu-ilmu tersebut, dengan menggunakan ungkapan-ungkapan yang sangat jelas, agar mudah dipelajari oleh para pemula, baik anak-anak lelaki maupun perempuan.

Kepada Allah jualah kami memohon petunjuk agar memperoleh kekuatan dan hidayah menuju jalan yang benar. Cukuplah Allah sebagai tempat berlindung dan meminta petunjuk dan pertolongan, dan Dialah sebaik-baiknya tempat berlindung dan meminta pertolongan. Tiada tuhan selain Dia dan kepada-Nya kita akan kembali.

[“Mengenal Mudah Rukun Islam, Rukun Iman, Rukun Ihsan, Secara Terpadu”, Habib Zain Bin Sumaith, Penerbit Al-Bayan]

MENGHIDUPKAN SUNNAH ROSULULLAH SAW

“ Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam.” (QS. Ali Imran :102)

“ Sungguh telah ada pada (diri ) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan Allah dan (kebahagiaan) hari akhir dan banyak-banyak berdzikir kepada Allah.” ( QS. Al-Ahzab:21)

Pengertian secara rinci, bahwasanya Rasulullah SAW merupakan suri tauladan :

  1. Bagi orang-orang yang hanya mengharapkan Allah, yaitu al-muqorrobun (ahli haqiqah).
  2. Bagi orang yang mengharapkan mengaharapkan di hari akhir (selamat dari neraka dan masuk surga), yaitu al-abraar (ahli syari’ah)
  3. Bagi oraang yang banyak berdzikir krpada Allah, yaitu ahli thoriqah.

Kesimpulannya, bahwa semua umat islam, baik kelompok ahli syari’ah, ahli thoriqah maupun ahli haqiqah itu kesemuannya harus mengambil suri tauladan dari Rasulullaah SAW.

Mengambil suri taulan ini adalah diperintahkan oleh Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya:

“ Katakanlah :”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah maha pengampun lagi maha penyayang. (QS. Ali Imran:31)

Al-ittiba’(mengikuti jejak Rosulullah) itulah yang dimaksud dengan mengambil suri tauladan dari Rasulullah SAW. Memang tidak ada jalan menuju Allah ( mencari keridlaan Allah, pendekatan diri kepada Allah, juga pahala-pahala dari Allah) kecuali hanya mengikuti jejak-jejak Rasulullah SAW, seperti yang dikatakan oleh Syaikh Abul Qasim al-Junaidi RA ( w. 297 H).

“ Semua Jalan menuju Allah adalah tertutup, kecuali orang-orang yang mengikuti jejak-jejak Rasulullah SAW.”

Juga seperti yang dikatakan oleh Syaikh Tajuddin Ibnu Atha’illah as- Sakandari RA (w.709 H)

“Sungguh Allah telah mengumpulkan kebajikan seluruhnya di dalam rumah, dan Allah telah membuat kuncinya, yaitu mengikuti jejak-jejak Nabi SAW. Barang siapa yang telah dibukakan baginya pintu mutaba’ah, maka hal itu menunjukkan bahwa ia telah dicintai oleh Allah SWT.”

Mengikuti jejak-jejak Rasulullah SAW itu, adalah berarti menghidupkan sunnah Rasulullah, sekaligus berarti mencintai beliau, yang pada akhirnya akan masuk kedalam surga bersama-sama dengan beliaau, sebagaimana sabda beliau :

“ Barang siapa menghidupkan sunnahku maka ia telah mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku maka ia akan bersamaku di surga “ ( HR. Thabarani dari Anas ibnu Malik)

Menghidupkan sunnah Rasulullah itu adalah dengan beberapa cara :

  1. At-Tamassaku ( berpegang teguh sekaligus mengamalkan), sebagaimana Sabda rasulullah SAW:

“ Barangsiapa yang berpegang teguh dengan sunnahku disaat rusaknya umatku, maka baginya pahala seperti pahala seratus orang mati syahid.”

Dan sabda Rasulullah SAW (dikutip dari kitab al-Ghun-yah karangan Syaikh Abdul Wadir al-Jilani):

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Umar, dari al-‘Urbadi bin Sariyaah RA, bahwasanya Rasulullah SAW shalat shubuh bersama kami, llu beliaaua menasehati kami dengan nasehat yang fasih, yang akrenanya kami meneteskan airmata, hati tergetar, dan kulit bagaiterbakar, lalu kami berkataa : “ wahai Rasulullah, sungguh seakan ini adalah nasehat perpisahan.”

Rasulullah SAW bersabda : “Aku berwasiat pada kalian semua untuk bertaqwa kepada Allah, mendengarkan, dan taat, sekalaipun ia budak Habsyi. Barangsiapa yang hidup setelah aku , niscaya akan  melihat banyak perselisihan (alira), ketika itu berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur Rasyidin setelah aku, pegang teguhlah itu dan gigitlah dengan gerahammu. Takutlah pada perkara-perkara baru, sungguh tiap perkara yang baru itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.”

(Yang dimaksud bid’ah dlolalah adalah bid’ah muharromah)

  1. Memperjuangkan atau mendakwakan, sebagaiman firman Allah SWT:

“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu, dengan hikmah (kebijaksanaa), dan mauidzah (pitutur) yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (berdialog). Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Nahl:125)

NegeriAds.com Solusi Berpromosi

halo apa kabar semua?? yap pasti sehat-sehat semuanya bukan.
aku punya info baru buat kamu semua …..
eh..eh ….ngomong-ngomong di indonesia ini ternyata sudah ada temapat untuk berpromosi yang bagus di internet..yap mau tahu dimana????
ya tentunya di negeriads.com. mau tahu lebih panjang ceritanya…ya okelah kalau begitu……(kayak nyanyian aje ).
Begini Negeri ads adalah sebuah sebuah jaringan iklan PPC yang menghubungkan para pengiklan (advertiser) dengan para penayang iklan (Publisher) dalam memanfaatkan media internet dalam memasarkan dan mengembangkan bisnis di indonesia. yap ngerti bukan?????sedangkan PPC adalah singkatan darai Pay per click artinya bahwa para pengiklan baru membayar iklannya setelah iklannya di klik oleh pengguna situs. dan di negeri ads biaya marketing adalah Rp.400 perklik. murah bukan… disamping itu di negeri ads jarinmgannya dilengkap fraud protection (1 Ip/iklan/hari) yang melindungi iklan-iklan anda dari klik-klik palsu. jadi uang anda tidak hilang percuma..bagus bukan ????yap Apasih keuntungannya beriklan di negeri ads ??? yap pertanyaan bagus. Jawabnya adalah di negeri ads iklan kamu akan tersebar di 4518 web /blog yang bekerjasama dengan negeri ads secara instan. eah…banyak sekaliiii? yap betul, betul, betul ( kayak ipin aja ).
lalu produk apa saja yang bisa di promosikan di negeri ads itu ???
Yap….banyak sekali bisa berupa e-book, video, scribs, softwere, peluang bisnis, jasa , furniture, properti dan seterusnya . wah..wah..banyak sekaliiiii. yap betul, betul, betul.
Oke sekarang tunggu apalagi, segeralah bergabung di negeri ads, siapa tahu usaha anda akan lebih berkembang dan tentunya keuntungan akan segara anda dapatkan. jangan ragu segera bergabung..siapa cepat dia yang dapat..ah..ah…ah.
ya okelah kalau begitu. jangan ragu lagu iklan anda tidak akan sia-sia. dan anda akan segera memperoleh hasilnya…ya…ya…ya.

Bagi temen – temen yang ingin ngramein kontes seo ikutilah Haryono kontes, sekali lagi haryono kontes. dan segeralah promosikan usaha kamu di negeri ads…Selamat berlomba dan selamat menikmati keuntungan dari negeri ads???

KRISIS KETELADANAN

Akhir-akhir ini kita sering mendengar,membaca  maupun melihat berita di TV, majalah, Koran, radio ataupun media yang lainya. Tentang pemberitaan mengenahi kasus KPK vs Polisi ataupun tentang rekaman anggodo yang di perdengarkan di MK. Sebenarnya kalau kita mengkaji lebih dalam kasus-kasus diatas seharusnya cepat terselesaikan dan tidak sampai berlarut-larut hingga sampai menjadi sebuah drama yang berepisode.

Sebenarnya mengapa itu semua terjadi ??? marilah kita intropeksi diri.sudahkah kita kembali kepada keteladanan yang diajarkan oleh yang mulia baginda kita nabi Muhammad saw yaitu tentang KEJUJURAN. Bukankan 1400 tahun yang lalu Nabi kita telah bersabda : “ hendaklah engkau bersikap jujur, karena jujur akan membawamu kepada kebaikan dan kebaikan akan mengantarmu kepada surga. Dan barang siapa membiasakan bersikap jujur maka ia akan di sebut siddiq (orang yang senantiasa jujur). Dan jauhilah atasmu  dusta, karena dusta akan  mengantarkan kepada perilaku menyimpang (dzalim) darn perilaku menyimpang mengantarkan kepada neraka. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku dusta hingga ia disebut pendusta besar.

Mungkin hadis diatas bisa diajadikan rujukan terhadap permasalahan penguasa sekarang. Sebenarnya kalau seandainya mereka-mereka bersikap jujur tentunya permasalahan yang terjadi tidak akan berlarut-larut ataupun kalau nantinya di persidangan tidak akan berbelit-belit.cukup JUJUR yang akan membuka dan menyeleseikan permasalah itu, kita sebagai orang muslim yang yaqin akan adanya hari pembalasan seharusnya takut, tentang itu semua jika kita berkata bohong / tidak jujur maka semua itu akan tersingkap dihadapan Allah rabbul jalil sebagai pengadilan tertinggi di akhirat kelak. Dan kita tidak bisa mengelak karna Allah bersifat adil dan maha melihat atas semua perbuatan yang kita lakukan di dunia ini, semua terekam dengan bagus tanpa ada editan sedikitpun.

BACALAH ARTIKEL DIBAWAH INI MENGENAGI KEJUJURAN

Semoga bermanfaat.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur” (QS: At-Taubah: 119). Dalam ayat lain, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Jikalau mereka jujur kepada Alloh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka” (QS: Muhammad: 21)

Jujur ialah kesesuaian ucapan dengan hati kecil dan kenyataan objek yang dikatakan (Fathul Baari, jilid X, hal 507).

Berkaitan dengan makna hadits di atas, ulama mengatakan bahwa sikap jujur dapat mengantarkan kepada amal shaleh yang murni dan selamat dari celaan. Sedang kata “al-birr” (kebaikan) adalah istilah yang mencakup seluruh kebaikan. Pendapat lain mengatakan bahwa “al-birr” berarti surga. sedangkan dusta dapat mengantarkan kepada perilaku menyimpang (kedzaliman).

Sikap jujur termasuk keharusan di antara sekian keharusan yang harus diterapkan oleh masyarakat, dia menjadi fundamen penting dalam membangun komunitas masyarakat. Tanpa sikap jujur, seluruh ikatan masyarakat akan terlepas. Karena tidak mungkin membentuk suatu komunitas masyarakat sedang mereka tidak berhubungan sesamanya dengan jujur.

Sikap jujur sebetulnya merupakan naluri setiap manusia. Cukup sebagai bukti bahwa anak kecil jika diceritakan tentang sosok seorang yang jujur di satu sisi dan di sisi lain diceritakan sosok seorang pendusta, engkau lihat, dia akan menyukai orang jujur dan membenci pendusta.

Al Marudzi bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal. “Dengan apakah seorang tokoh meraih reputasi hingga terus dikenang?”. Imam Ahmad menjawab singkat: “Dengan perilaku jujur”. Beliau melanjutkan bahwa ”Sesungguhnya perilaku jujur terkait dengan sikap murah tangan (dermawan).” (Thabaqatul Habilah, jilid I, hal 58).

Imam Fudhail bin Iyadh berkata: “Seseorang tidak berhias dengan sesuatu yang lebih utama daripada kejujuran (Hilyatul Auliya, jilid VIII,hal 109).

Sahabat Bilal melamar wanita Quraisy (suku terhormat-red) untuk dinikahkan dengan saudaranya. Dia berkata kepada keluarga wanita Quraisy: “Kalian telah mengetahui keberadaan kami. Dahulu kami adalah para hamba sahaya lalu dimerdekakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Kami dahulu adalah orang-orang tersesat lalu diberikan hidayah oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Kami dulunya fakir lalu dijadikan kaya oleh-Nya. Kini akan melamar wanita fulanah ini untuk dijodohkan dengan saudaraku. Jika kalian menerimanya, maka segala puji bagi Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Dan bila kalian menolak, maka Alloh Subhanahu wa Ta’ala Dzat Yang Maha Besar.

Anggota keluarga wanita itu tampak memandang satu dengan yang lainnya. Mereka lalu berkata: “Bilal termasuk orang yang kita kenal kepeloporan, kepahlawanan, dan kedudukannya di sisi Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa sallam. Maka nikahkanlah saudara dengan puteri kita”. Mereka lalu menikahkan saudara Bilal dengan wanita Quraisy tersebut. Usai itu saudara Bilal berkata kepada Bilal: “Mudah-mudahan Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengampuni. Apa engkau menuturkan kepeloporan dan kepahlawanan kami bersama dengan Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam, sedang engkau tidak menuturkan hal-hal selain itu? Bilal menjawab: “Diamlah saudaraku, kamu jujur, dan kejujuran itulah yang menjadikan kamu menikah dengannnya”. (Al Mustathraf, jilid I, hal 356).

Ismail bin Abdullah Al-Makhzumi berkata: “Khalifah Abdul Malik bin Marwan menyuruh aku mengajari anak-anaknya dengan kejujuran sebagaimana dia menyuruh aku membaca tulis Al-Qur’an serta menyuruh aku menghindarkan mereka dari dusta walaupun harus mati” (Makarimul Akhlaq, hadits nomor 122, hal 27).

Rib’i bin Hirasy dikenal tidak pernah berdusta sama sekali. Suatu hari dua puteranya tiba dari Khurasan berkumpul dengannya., sedang keduanya adalah anak durhaka (nakal). Barangkali kedua anaknya menjadi pemberontak pemerintah. Seorang mata-mata lalu memberi kabar kepada Hajjaj. Katanya: “Wahai pimpinanku, masyarakat seluruhnya menganggap Rib’i bin Hirasy tidak pernah berdusta selamanya. Sementara saat ini kedua anaknya yang durhaka dan nakal datang dari Khurasan dan berkumpul dengannya”.

Hajjaj berkata: “Serahkan ia kepadaku”. Rib’i bin Hirasy lalu dibawa ke hadapan Hajjaj. Hajjaj bertanya: “Wahai orangtua….”.
“Apa yang kau mau?” tanya Rib’i.
“Saat ini apakah yang dilakukan oleh kedua puteramu?” tanya Hajjaj dengan selidik.
Rib’i berkata jujur: “Tempat bermohon adalah Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Aku meninggalkan keduanya di rumah”.
“Tidak ada pidana. Demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, aku tidak menuduh buruk kepadamu mengenai dua anakmu. Sekarang kedua anakmu terserah padamu. Keduanya bebas dari tuduhan pidana”. (Makarimul Akhlaq, hadits nomor 135, hal 29-30).

URGENSI MURSYID DALAM TAREKAT

Allah Swt. Berfirman :

“Barangsiapa mendapatkan kesesatan, maka ia tidak akan menemukan (dalam hidupnya) seorang wali yang mursyid” (Al-Qur’an).

Dalam tradisi tasawuf, peran seorang Mursyid (pembimbing atau guru ruhani) merupakan syarat mutlak untuk mencapai tahapan-tahapan puncak spiritual. Eksistensi dan fungsi Mursyid atau wilayah kemursyidan ini ditolak oleh sebagaian ulama yang anti tasawuf atau mereka yang memahami tasawuf dengan cara-cara individual. Mereka merasa mampu menembus jalan ruhani yang penuh dengan rahasia menurut metode dan cara mereka sendiri, bahkan dengan mengandalkan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Namun karena pemahaman terhadap kedua sumber ajaran tersebut terbatas, mereka mengklaim bahwa dunia tasawuf bisa ditempuh tanpa bimbingan seorang Mursyid.

Pandangan demikian hanya layak secara teoritis belaka. Tetapi dalam praktek sufisme, hampir bisa dipastikan, bahwa mereka hanya meraih kegagalan spiritual. Bukti-bukti historis akan kegagalan spoiritual tersebut telah dibuktikan oleh para ulama sendiri yang mencoba menempuh jalan sufi tanpa menggunakan bimbingan Mursyid. Para ulama besar sufi, yang semula menolak tasawuf, seperti Ibnu Athaillah as-Sakandari, Sulthanul Ulama Izzuddin Ibnu Abdis Salam, Syeikh Abdul Wahab asy-Sya’rani, dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali akhirnya harus menyerah pada pengembaraannya sendiri, bahwa dalam proses menuju kepada Allah tetap membutuhkan seorang Mursyid.

Masing-masing ulama besar tersebut memberikan kesaksian, bahwa seorang dengan kehebatan ilmu agamanya, tidak akan mampu menempuh jalan sufi, kecuali atas bimbingan seorang Syekh atau Mursyid. Sebab dunia pengetahuan agama, seluas apa pun, hanyalah “dunia ilmu”, yang hakikatnya lahir dari amaliah. Sementara, yang diserap dari ilmu adalah produk dari amaliah ulama yang telah dibukakan jalan ma’rifat itu sendiri.

Jalan ma’rifat itu tidak bisa begitu saja ditempuh begitu saja dengan mengandalkan pengetahuan akal rasional, kecuali hanya akan meraih Ilmul Yaqin belaka, belum sampai pada tahap Haqqul Yaqin. Alhasil mereka yang merasa sudah sampai kepada Allah (wushul) tanpa bimbingan seorang Mursyid, wushul-nya bisa dikategorikan sebagai wushul yang penuh dengan tipudaya. Sebab, dalam alam metafisika sufisme, mereka yang menempuh jalan sufi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid, tidak akan mampu membedakan mana hawathif-hawathif (bisikan-bisikan lembut) yang datang dari Allah, dari malaikat atau dari syetan dan bahkan dari jin. Di sinilah jebakan-jebakan dan tipudaya penempuh jalan sufi muncul. Oleh sebab itu ada kalam sufi yang sangat terkenal:

“Barangsiapa menempuh jalan Allah tanpa disertai seorang guru, maka gurunya adalah syetan”.

Oleh sebab itu, seorang ulama sendiri, tetap membutuhkan seorang pembimbing ruhani, walaupun secara lahiriah pengetahuan yang dimiliki oleh sang ulama tadi lebih tinggi dibanding sang Mursyid. Tetapi, tentu saja, dalam soal-soal Ketuhanan, soal-soal bathiniyah, sang ulama tentu tidak menguasainya.

Sebagaimana ayat al-Qur’an di atas, seorang Syekh atau Mursyid Sufi, mesti memiliki prasyarat yang tidak ringan. Dari konteks ayat di atas menunjukkan bahwa kebutuhan akan bimbingan ruhani bagi mereka yang menempuh jalan sufi, seorang pembimbing ruhani mesti memiliki predikat seorang yang wali, dan seorang yang Mursyid. Dengan kata lain, seorang Mursyid yang bisa diandalkan adalah seorang Mursyid yang Kamil Mukammil, yaitu seorang yang telah mencapai keparipurnaan ma’rifatullah sebagai Insan yang Kamil, sekaligus bisa memberikan bimbingan jalan keparipurnaan bagi para pengikut thariqatnya.

Tentu saja, untuk mencari model manusia paripurna setelah wafatnya Rasulullah saw. terutama hari ini, sangatlah sulit. Sebab ukuran-ukuran atau standarnya bukan lagi dengan menggunakan standar rasional-intelektual, atau standar-standar empirisme, seperti kemasyhuran, kehebatan-kehebatan atau pengetahuan-pengetahuan ensiklopedis misalnya. Bukan demikian. Tetapi, adalah penguasaan wilayah spiritual yang sangat luhur, dimana, logika-logikanya, hanya bisa dicapai dengan mukasyafah kalbu atau akal hati.

Karenanya, pada zaman ini, tidak jarang Mursyid Tarekat yang bermunculan, dengan mudah untuk menarik simpati massa, tetapi hakikatnya tidak memiliki standar sebagai seorang Mursyid yang wali sebagaimana di atas. Sehingga saat ini banyak Mursyid yang tidak memiliki derajat kewalian, lalu menyebarkan ajaran tarekatnya. Dalam banyak hal, akhirnya, proses tarekatnya banyak mengalami kendala yang luar biasa, dan akhirnya banyak yang berhenti di tengah jalan persimpangan.

Lalu siapakah Wali itu? Wali adalah kekasih Allah Swt. Mereka adalah para kekasih Allah yang senanatiasa total dalam tha’at ubudiyahnya, dan tidak berkubang dalam kemaksiatan. Dalam al-Qur’an disebutkan:

“Ingatlah, bahwa wali-wali Allah itu tidak pernah takut, juga tidak pernah susah.”

Sebagian tanda dari kewalian adalah tidak adanya rasa takut sedikit pun yang terpancar dalam dirinya, tetapi juga tidak sedikit pun merasa gelisah atau susah. Para Wali ini pun memiliki hirarki spiritual yang cukup banyak, sesuai dengan tahap atau maqam dimana, mereka ditempatkan dalam Wilayah Ilahi di sana. Paduan antara kewalian dan kemursyidan inilah yang menjadi prasyarat bagi munculnya seorang Mursyid yang Kamil dan Mukammil di atas.

Dalam kitab Al-Mafaakhirul ‘Aliyah, karya Ahmad bin Muhammad bin ‘Ayyad, ditegaskan, — dengan mengutip ungkapan Sulthanul Auliya’ Syekh Abul Hasan asy-Syadzily ra, — bahwa syarat-syarat seorang Syekh atau Mursyid yang layak – minimal –ada lima:

1. Memiliki sentuhan rasa ruhani yang jelas dan tegas.
2. Memiliki pengetahuan yang benar.
3. Memiliki cita (himmah) yang luhur.
4. Memiliki perilaku ruhani yang diridhai.
5. Memiliki matahati yang tajam untuk menunjukkan jalan Ilahi.

Sebaliknya kemursyidan seseorang gugur manakala melakukan salah satu tindakan berikut:

1. Bodoh terhadap ajaran agama.
2. Mengabaikan kehormatan ummat Islam.
3. Melakukan hal-hal yang tidak berguna.
4. Mengikuti selera hawa nafsu dalam segala tindakan.
5. Berakhak buruk tanpa peduli dengan perilakunya.
Syekh Abu Madyan – ra- menyatakan, siapa pun yang mengaku dirinya mencapai tahap ruhani dalam perilakunya di hadapan Allah Swt. lalu muncul salah satu dari lima karakter di bawah ini, maka, orang ini adalah seorang pendusta ruhani:

1. Membiarkan dirinya dalam kemaksiatan.
2. Mempermainkan thaat kepada Allah.
3. Tamak terhadap sesama makhuk.
4. Kontra terhadap Ahlullah
5. Tidak menghormati sesama ummat Islam sebagaimana diperintahkan Allah Swt.

Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili mengatakan, “Siapa yang menunjukkan dirimu kepada dunia, maka ia akan menghancurkan dirimu. Siapa yang menunjukkan dirimu pada amal, ia akan memayahkan dirimu. Dan barangsiapa menunjukkan dirimu kepada Allah Swt. maka, ia pasti menjadi penasehatmu.”

Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengatakan, “Janganlah berguru pada seseorang yang yang tidak membangkitkan dirimu untuk menuju kepada Allah dan tidak pula menunjukkan wacananya kepadamu, jalan menuju Allah”.

Seorang Mursyid yang hakiki, menurut Asy-Syadzili adalah seorang Mursyid yang tidak memberikan beban berat kepada para muridnya.

Dari kalimat ini menunjukkan bahwa banyak para guru sufi yang tidak mengetahui kadar bathin para muridnya, tidak pula mengetahui masa depan kalbu para muridnya, tidak pula mengetahui rahasia Ilahi di balik nurani para muridnya, sehingga guru ini, dengan mudahnya dan gegabahnya memberikan amaliyah atau tugas-tugas yang sangat membebani fisik dan jiwa muridnya. Jika seperti demikian, guru ini bukanlah guru yang hakiki dalam dunia sufi.

Jika secara khusus, karakteristik para Mursyid sedemikian rupa itu, maka secara umum, mereka pun berpijak pada lima (5) prinsip thariqat itu sendiri:
1. Taqwa kepada Allah swt. lahir dan batin.
2. Mengikuti Sunnah Nabi Saw. baik dalam ucapan maupun tindakan.
3. Berpaling dari makhluk (berkonsentrasi kepada Allah) ketika mereka datang dan pergi.
4. Ridha kepada Allah, atas anugerah-Nya, baik sedikit maupun banyak.
5. Dan kembali kepada Allah dalam suka maupun duka.

Manifestasi Taqwa, melalaui sikap wara’ dan istiqamah.

Perwujudan atas Ittiba’ sunnah Nabi melalui pemeliharaan dan budi pekerti yang baik. Sedangkan perwujudan berpaling dari makhluk melalui kesabaran dan tawakal. Sementara perwujudan ridha kepada Allah, melalui sikap qana’ah dan pasrah total. Dan perwujudan terhadap sikap kembali kepada Allah adalah dengan pujian dan rasa syukur dalam keadaan suka, dan mengembalikan kepada-Nya ketika mendapatkan bencana.
Secara keseluruhan, prinsip yang mendasari di atas adalah:

1) Himmah yang tinggi,
2) Menjaga kehormatan,
3) Bakti yang baik,
4) Melaksanakan prinsip utama; dan
5) Mengagungkan nikmat Allah Swt.

Dari sejumlah ilusttrasi di atas, maka bagi para penempuh jalan sufi hendaknya memilih seorang Mursyid yang benar-benar memenuhi standar di atas, sehingga mampu menghantar dirinya dalam penempuhan menuju kepada Allah Swt.

Rasulullah saw. adalah teladan paling paripurna. Ketika hendak menuju kepada Allah dalam Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah Saw. senantiasa dibimbing oleh Malaikat Jibril as. Fungsi Jibril di sini identik dengan Mursyid di mata kaum sufi. Hal yang sama, ketika Nabiyullah Musa as, yang merasa telah sampai kepada-Nya, ternyata harus diuji melalui bimbingan ruhani seorang Nabi Khidir as. Hubungan Musa dan Khidir adalah hubungan spiritual antara Murid dan Syekh. Maka dalam soal-soal rasional Musa as sangat progresif, tetapi beliau tidak sehebat Khidir dalam soal batiniyah.

Karena itu lebih penting lagi, tentu menyangkut soal etika hubungan antara Murid dengan Mursyidnya, atau antara pelaku sufi dengan Syekhnya. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani, (W. 973 H) secara khusus menulis kitab yang berkaitan dengan etika hubungan antara Murid dengan Mursyid tersebut, dalam “Lawaqihul Anwaar al-Qudsiyah fi Ma’rifati Qawa’idus Shufiyah”.